Rabu, 02 Mei 2012

Senyuman di negri pelangi




Senyuman di negri pelangi

Sore itu,.
Kurapikan jilbab karena terkoyak angin yang kencang,

“sedikit basah” pikirku
Sore itu memang hujan deras, halilintar setia menemani hujan angin sore itu. Seperti biasa, aku mau ketemu anak-anakku. Hari ini, mereka UTS, aku sudah membayangkan betapa wajah ceria mereka menjadi beraneka ragam, karena yang kutahu banyak sekali hal yang mereka pikirkan, tak hanya UTS sore ini.

Kuraih tas ranselku, sementara tangan kiriku membawa payung yang siap kubuka ketika turun dari angkutan umum.

“Yap! Hujan masih turun, Engkau tahu mana yg terbaik kan?” bisikku dalam hati, sambil kusimpulkan senyum, pertanda hatiku setuju dengan yang kuucapkan.
“Gerlong Pak”
“Nuhun neng”

Siap melaju ke angkutan umum berikutnya, hujan tak kunjung berhenti, kurapikan lagi jilbabku.
“Hemmmm, angin kenceng lagi. Engkau tahu mana yang terbaik kan?” kusimpulkan senyum lagi, tanda hatiku setuju dengan yg kuucapkan.
“Antapani.. antapani..” suara supir angkot teriak kenceng banget, maklum depan BEC , banyak orang berlalu lalang”
“aah, naik yg ini deh, kayaknya  cepet nih, gak ngetem2”

Perjalanan begitu menyita waktu, membuatku ngantuk dan kadang merem memejamkan mata,
“Rasanya kok lelah banget hari ini,” kuhembuskan nafas sedikit tertahan, malu juga banyak yg lihat, angkot full , seperti kata pak supir :
“tujuh lima, tujuh lima” pertanda angkot penuh, sisi kanan tujuh, dan sisi kiri (tempat duduk) diisi 5 penumpang”

“Tekluk, tekluk” kayaknya begini keadaan sore itu, ngantuk, malemnya tidur malem
 “Hemmmm” kuhembuskan nafas lagi, kemudian..
“Tekluk .. tekluk”  Ngantuk..

Hujan terus mengguyur Terusan Jalan Jakarta sore itu, angin dan halilintar beriringan layaknya iringan musik antara gitar dan piano, menjadi perpaduan musik yang indah. Tak lain dengan hujan sore ini, deres.
“Borma, Borma” suara pak supir membangunkanku
“Kiri , payun Pak (kiri, depan Pak)” sedikit bersuara sundanis, mengimbangi suara Pak supir
“Tilu ribu neng,”
“Muhun Pak, nuhun nya”

Payungku masih kukenakan, tak lain lagi..
Kurapikan jilbabku, seperti semula, basahnya mulai mrembes kelapisan jilbab kedua, aku merasa mulai dingin,
“Sepatuku,, ooohh”  sepatu setia yang menemani perjuangan ini,
“Maafkan yaa, untuk sore ini jadi akuarium dulu, besok aku jemur deh yaa” Kupandang sepatu kesayanganku

Hujan masih deras, seperti biasa, kampus sebelah selatan memang sudah jadi kebiasaan, banjir dadakan setiap hujan. Jalan pintas menuju ruang pengajar memang lebih rendah dari jalan raya, jadi sasaran air yang mengalir setiap hujan, dan menjadi penampung aliran air. Klo aku bilang..
‘Sungai dadakan”
“Sepatuku aja tetep tabah, walaupun sudah jadi akuarium, waah bos nya juga mesti tabah donk.” Kusimpulkan senyum lagi, pertanda yg kuucapkan sesuai dengan yg ada di hati.

Klo gini, jadi inget pesen Bapak
“Wanita itu juga harus tegar seperti karang, tapi harus lembut”
Singkat, tapi dalem maknanya.

Sore itu, ketika hujan turun deras,
Bandung, Mei awal, 2012


Tidak ada komentar:

Posting Komentar