Minggu, 09 Oktober 2011

Alkisah seorang perokok dan perhitungan matematis nya selama 1 tahun,


Alisa Delisa

ALISA DELISA...


Pada kali ini, aku akan menceritakan tentang Alisa Delisa, kawan...
Jika kita baca buku Tere Liye, kita akan tahu bahwa Alisa Delisa adalah gadis cilik berumus 6 tahun yang sedang belajar menghafal shalat. Kisahnya dimulai di negeri serambi mekah,. Yaa. Lhok Nga,. “Aceh” masih ingatkah kawan, tanggal 26 Desember 2004?? Peristiwa tragis yang menggulung Lhok Nga dan sekitarnya menjadi rata, yang menjadikannya kota mati, aroma mayat di mana-mana, tiap istri kehilangan suaminya, tiap anak kehilangan ibu dan bapaknya, tiap adik kehilangan kakak nya,.. daaannn Semuaa HABIS ditelan gempa dan tsunami berkekuatan 8,9 skala Richter.
Alisa delisa yang saat itu sedang menghafal di sekolah nya disaksikan Ibu Guru Nur ..’Allaahu Akbar’....gempa menggoyang perut Lhok Nga,..atap sekolah Delisa berjatuhan dan runtuh,. Tapi Delisa ingat bahwa salah satu sahabat nabi yang khusu dalam shalat,.sampai seekor kalajengking menggigitnya dia tidak gentar ..’Delisa ingin seperti sahabat Nabi,. Khusu dalam shalat’..
Sebelumnya....
Delisa adalah anak bungsu dari empat bersaudara,. Alisa Fatimah,. Alisa Zahra&Alisa Aisyah (si kembar),, kemudian Alisa Delisa. Umi Salamah adalah umi yang soleha,. Setiap saat selalu mengajarkan keimanan kepada anak-anaknya, Abi Ustman bekerja di sebuah kapal besar sebagai maintenance, kapal ini berkeliling dari negara satu ke negara yang lainnya , yang pulang beberapa bulan sekali ke rumah.
Tiap hari keluarga ini selalu shalat berjamaah, Umi sebagai imam, dan kak Aisyah ditugaskan oleh umi membaca bacaan shalat lebih sedikit keras, agar delisa bisa menghafal bacaan shalat lebih cepat,...
Kawan,.... tapi pada kesempatan kali ini, saya tidak menceritakan Delisa ‘Tere Liye’ jika kalian akan membaca kisah haru biru ini, kejadian tsunami Aceh, kalian bisa baca buku Tere Liye,. Dia mengemas cerita ini begitu menggeliat, kita akan dibawa ke kisah 7 tahun silam ketika Aceh remuk oleh tsunami.
Kali ini, saya akan menceritakan tentang Alisa Delisa lain yang saya temui di Bandung,.
Alisa Delisa ini berumus sama, seusia dengan Delisa,.. yaa 6 tahun. Gadis ini selalu berada di perempatan jalan Riau, jika kalian jalan2 ke Bandung melewati BIP, lalu dari perempatan BIP lurus, ada Riaujunction,. Diperempatan inilah Delisa berada. Gadis kecil ini tak seberuntung Delisa ‘Tere Liye’ mempunyai Abi dan Umi yang selalu memperhatikan seluruh kebutuhannya dan mendidik keislaman pada jiwanya,. Gadis cilik ini juga tak seberutung Delisa ‘Tere Liye’ yang mempunyai Kak Aisyah yang membacakan bacaan shalat lebih nyaring ketika berjamaah dengan ummi agar hafalan shalatnya cepat,. Gadis cilik ini juga tak seberuntung Delisa yang mempunyai paras cantik dan bercahaya,. Kalian akan menjumpai Delisa ini dengan baju kumal, warna kulit kecoklatan karena terpanggang sinar matahari seharian, tidak beralaskan sandal/sepatu, wajah muram,. suram,.. tak ada pengharapan ,. memikul salang menjajakan ulekan (dalam bahasa jawa, ulekan itu ciri & muthu, buat bikin sambal)
Gadis ini akan mengetok kaca mobilmu jika kamu melewati jalan ini, gadis ini akan berkata “Beli paaak...” seusia ini  kawan,,. Apakah kalian pernah merasakannya?? Ataukah kalian adalah sebagian orang yang mempunyai alas tidur empuk bercover-bed tebal, dan makan direstoran ternama?
Delisa, setiap sore menyetorkan hasil jualannya kepada ibunya yang selalu mengawasinya di sudut jalan Riau,. Jika Delisa tidak menjajakan dagangannya, maka ibunya ini akan memelototkan matanya,. Jika tanpa hasil, Delisa tidak akan makan seharian, walaupun lapar, walaupun haus, Delisa tidak pernah meminta-minta,. ‘Delisa tidak akan minta-minta,. Delisa harus khusu jualan’ mungkin kata inilah yang tepat untuk melukiskan kesamaan keduanya,. Yang satu khusu shalat, yang satu khusu jualan. Jika tanpa hasil, Delisa akan ikhlas karena sudah ikhtiar, dan dia akan ikhlas mendapat kata2 cacian dari ibunya. Jika hasil jualan lumayan pada hari itu, dia akan ikhlas tidak dibagi hasilnya oleh ibunya, hanya mendapat sepotong kue kecil untuk mengganjal perutnya,.
Ternyata ada kesamaan antara kedua Delisa ini kawan,.. Delisa selalu menghilang pada jam2 tertentu,.
Jam 4.30 pagi, jam 11.30, jam 15.00, jam 18.00, dan jam 19.00 dia menghilang ke sekitar taman lalu lintas,. Jika ketahuan oleh ibunya, ia terpaksa berbohong untuk buang air kecil.. Ia melakukan shalat kawan,. Dan shalatnya adalah shalat sempurna,. Disertai wudhu,. Yang ia lakukan di kamar mandi gratis,... delisa belajar shalat bukan dari Kak Aisyah dan ummi kawan,.. kalian mau tahu dia belajar shalat dari mana..?
Suatu ketika, karena ibunya sakit,, dia tidak mengawasinya jualan,. Delisa seharian berkeliling2 jalan di Bandung,. Waktu itu sore hari,. Bada asyar,. Tepat di depan masjid di gang dari arah simpang dago ke atas) tepatnya Dipati Ukur dia mengamati banyak sekali anak2 belajar shalat,. 3 hari berturut2 setiap bada asyar dia selalu mampir di mesjid ini, sambil istirahat di serambi mesjid, ia mengawasi anak2 yang sedang wudu..dan melakukan shalat,.. dia menghafal gerakannya,.. sampai suatu ketika ia mempraktekan nya,.dan sempurna sekali wudunya, membasuh tangan, muka,... sampai selesai,. Begitu juga dengan shalatnya,.. sempurna gerakannya,.. takbiratul ikhram,.. tangan sedekap,. Ruku, sujud,. Sampai selesai,..
‘Delisa Bisa shalat’,.. itulah yang ia teriakkan setiap kali selesai shalat di dekat taman lalu lintas,. Shalatnya tanpa mukena dengan baju kumalnya,. Shalatnya hanyalah gerakan dan hanya takbiratul ikhram,.tanpa bacaan shalat, (yang dia amati 3 hari berturut2 pada saat belajar shalat di mesjid gang Dipati Ukur adalah shalat asyar, yg semua bacaannya adalah sihran,. “Tidak keras”) , shalatnya beralas rumput taman lalu lintas,.
Delisa,.. jika kamu bertemu kakak dan kami,.. maukah suatu ketika kita sempurnakan bacaan shalatnya,...?? Salam rindu untukmu, dan semoga Allah selalu menjagamu,.

Lelaki berparas cahaya VS Narcissus


TELAGA ITU LUAS,. Sebentang Ailah di Syam hingga San’a di Yaman. Di tepi telaga itu berdiri seorang lelaki. Rambutnya hitam, disisir rapi sepapak daun telinga. Dia menoleh dengan segenap tubuhnya, menghadap hadirin  dengan sepenuh dirinya. Dia memanggil-manggil. Seruannya merindu dan merdu. “Marhaban ayyuhal insaan! Silakan mendekat, silakan minum!”
Senyumnya lebar, hingga otot di ujung matanya berkerut dan gigi putihnya tampak. Dari sela gigi itu terpancar cahaya. Mata hitamnya yang bercelak dan berbulu lentik mengerjap bahagia tiap kali menyambut pria dan wanita yang bersinar bekas-bekas wudhunya.
Tapi diantara alisnya yang tebal dan nyaris bertaut itu, ada rona merah dan urat yang membiru tiap kali beberapa manusia dihalau dari telaganya. Dia akan diam sejenak. Wibawa dan ahlaqnya terasa semerbak. Lalu dia bicara penuh cinta, dengan mata berkaca-kaca. “Ya Rabbi”, serunya sendu, “Mereka bagian dariku! Mereka ummatku!”
Ada suara menjawab, “Engkau tak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu!”
Air telaga itu menebar  wangi yang lebih harum dari kasturi. Rasanya lebih lembut dari susu, lebih manis dari madu, dan lebih sejuk dari salju. Di telaga itu, bertebar cangkir kemilau sebanyak bilangan gemintang. Dengan itulah si lelaki itu memberi minum mereka yang kehausan, menyejukkan mereka yang kegerahan. Wajahnya berseri tiap kali ummatnya menghampiri. Dia berduka jika dari telaganya ada yang dihalau pergi.
Telaga itu sebentang Ailah di Syam hingga San’a di Yaman. Tapi ia tak terletak di dunia ini. Telaga itu Al-Kautsar. Lelaki itu Muhammad. Namanya terpuji di langit dan bumi.
**************************************
Telaga lain yang lebih kecil, konon pernah ada dalam cangkungan sebuah hutan di Yunani. Dan telaga itu, setiap pagi seorang lelaki berkunjung. Dia berlutut di tepinya, mengagumi bayangannya yang tepantul dipermukaan. Dia berlutut di tepinya, mengagumi bayangannya yang terpantul dipermukaan. Dia memang tampan. Garis dan lekuk parasnya terpahat sempurna. Matanya berkilau. Alis hitam dan cambang di wajahya berbaris rapi, menjadi kontras yang menegaskan kulit putihnya.
Lelaki itu, kita tahu, Narcissus. Dia tak pernah berani menjamaah air telaga. Dia takut citra indah yang dicintanya itu memudar hilang ditelan riak. Konon dia dikutuk oleh Echo, peri wanita yang telah dia tolak cintanya. Dia terkutuk untuk mencintai tanpa bisa menyentuh, tanpa bisa merasakan, tanpa bisa memiliki. Echo meneriakkan laknatnya di sebuah lembah, menjadi gema dan gaung yang hinga kini diistilahkan dengan namanya.
Maka di tepi telaga itu Narcissus selalu terpana dan terpesona. Wajah dalam air itu mengalihkan dunianya. Dia lupa pada segala hajat hidupnya. Kian hari tubuhnya melemah, hingga satu hari dia jatuh tenggelam. Alkisah, tempat dia terbenam,tumbuh sekuntum bunga. Orang-orang menyebut kembang itu Narcissus.
******************************
Tetapi Paulo Choelho punya anggitan lain untuk kisah Narcissus. Dalam karyanya The Alchemist, tragika lelaki yang jatuh cinta pada dirinya sendiri itu diakhiri dengan lebih memikat. Konon, setelah kematian Narcissus, peri-peri hutan datang ke telaga. Airnya telah berubah dari semula jernih dan tawar menjadi seasin air mata.
“Mengapa kau menangis?” tanya para peri
Telaga itu berkaca-kaca. “Aku menangisi Narcissus,” katanya
“Oh, tak heranlah kau tangisi dia . sebab semua penjuru hutan selalu mengaguminya, namun hanya kau yang bisa menakjubi keindahannya dari dekat.”
“Oh,. Indahkan Narcissus?”
Para peri hutan saling memandang. “Siapa yang mengetahuinya lebih dari padamu?” kata salah seorang. “Di dekatmulah tiap hari dia berlutut mengagumi keindahannya.”
Sejenak hening menyerap mereka. “Aku menangisi Narcissus, “ kata telaga kemudian,”Tapi tak pernah kuperhatikan bahwa dia indah. Aku menangis karena, kini aku tak bisa lagi memandang keindahanku sendiri yang terpantul di bola matanya tiap kali dia berlutut di dekatku”.
*******dikutip dari buku Salim A.Fillah “Dalam dekapan ukhuwah*******
Setelah kita membaca kisah di atas, masihkan kita menjadi Narcissus?? Hanya peduli tentang diri kita, mengagumi diri kita sehingga lupa semuanya., begitu sebaliknya dengan telaga tersebut. Mengagumi diri sendiri dan mencintai nya. Narcissus dan telaga tersebut hanya dongeng, namanya hanya kita tahu sebagai kisah.. berbeda dari kisah telaga Al-Kautsar,. Seorang lelaki sebagai suri tauladan, parasnya bercahaya, ahlaqnya mulia,.. tetap menjadi pelayan ummat,.. yang akan bersedih ketika umatnya berpaling sepeninggalnya.

Kamis, 06 Oktober 2011

Bukankah ALLAH telah berjanji ,........




Bukankah ALLAH telah berjanji ,........

Sungguh tragis, 1 oktober 2011 tepatnya pukul 7 malam, sabtu malam minggu aku berniat pulang ke kebumen , tadinya aku berencana pulang jumat malam sabtu sehabis kerja langsung otw . Tapi di telpon pak boss buat ikut pelatihan software di hari sabtu nya,. Hehehe (biasa lah klo kuli kan jadwalnya tidak tentu,  J )
Jadinya,  aku pulang hari ini deh..
Ya!! Seperti biasa, kreta ekonomi yang nantinya mengantarkanku pulang ke kebumen , tapi rencana tinggal rencana jika Allah berkehandak lain,.. TIKET KRETA habis!! WOOOOWWWW,.. hatiku bilang,. “AKU harus tetap pulang, karena PENTING,. Hehe (niatnya sii ngasih kejutan buat kedua orang tua,.. mau tau itu apa?? Adaaaaa deehh,,.. nantikan di kisah saya berikutnya,. J )
Hal ini harus membuatku menginap di stasiun, karena besok pagi harus rebutan tiket jam 5 pagi, karena keberangkatan kreta jam 6.15 pagi,.. alasan ku memilih kreta ekonomi itu,,. Enak juga, selain ekonomis bngett,. Malah bukan ekonomis jadinya,,. Tapi ekonomi (tarifnya,. Hehe), ada banyak jajan juga di dalam kreta, seneng liatnya ada pecel lontong murah harganya 4ribu uda kenyang, rasanya mantabbbb, ada pernak pernik murah bnget,.. hampir semua dagangan ada dalam kereta,,. Dan itu... MURA2 SEMUAA...
Tapi bukan ini kawan, yang kali ini akan aku ceritakan kepadamu,...
Begini kisahnya,...



Menginap di stasiun bukanlah hal yang menyenangkan, selain dingin (apalagi bandung, karena malam ini aku memang tidak bawa jaket), tapiiii yg lebih tidak menyenangkan adalah pemandangan dalam stasiun. Tepat berjarak 1 langkah aku duduk di lantai., ada beberapa grombolan laki2 dan perempuan ABG yang juga menginap untuk berebut tiket di pagi hari,. Satu peristiwa yang membuat telingaku mencermati banget ABG tersebut,.. seorang gadis dengan usia yaaa sekitar 24 tahun an, layaknya usia ku,. Dia asyik sekali telfon dengan seseorang  yang dalam bahasa sekarang sering disebut ‘pacar’ (mohon maaf bagi yg pacaran, saya tidak nyindir, tapi lebih dari sekedar itu,.. heheheh). Bahasa yang dia gunakan dalam bercakap2 dengan ‘pacar nya’ membuat ku berfikir keras,. ‘kira2 apa artinya yaaa’ (maaf bukannya saya nguping mba, tapi bahasamu dan pembicaraanmu membuatku berfikir jauuuh dan panjanng ke depan, bagi ku itu hikmah yg luar biasa) karena peristiwa inilah tanganku tergerak untuk membuat tulisan kecil ini.
Kurang lebih bahasanya seperti ini... “Mas,.. mas mengenalkanku akan sesuatu yang...... aku jadi ketagihan,.......................... (maaf disensor ya)” obrolan itu kurang lebih intinya hubungan laki2 dan wanita yang bukan muhrim dan lebih dari sekedar batas “zina” (kurang lebih kata2 inilah yg tepat untuk melukiskannya).

Terkejut sekali aku mendengarnya,.. apa yg dapat aku ambil himah dari peristiwa ini,.. dan kurang lebih aku memaknainya seperti ini:
Bukankah ALLAH telah berjanji wanita baik2 untuk pria baik2 pula, dan begitu sebaliknya,.
MASIHKAH kita ragu untuk menunggu janji ALLAH yang memang benar dan yakin adanya??
Masihkah kita mengharap kepada selain ALLAH , dengan menggantungkan hati kita kepada pria/wanita yang jelas2 sudah dijelaskan bagaimana batas hubungan antara Pria dan wanita yg bukan muhrim??
Atau kah sampai saat ini kita masih asyik terlena dengan urusan dunia, membuat nafsu kita menjalar kemana2 menuruti syaitan,.
Syaitan itu musuh yang nyata lho,... dia diciptaakan untuk menggoda manusia. TAPI.... hanya kepada manusia yang mau,. (itu pilihan ente, klo ente mau,,. Ya jadi abdi dalem syaitan..hehehe).
Wallahu ‘alam bisshawab, semoga bermanfaat.